Selasa, 14 Juni 2016

BIOGRAFI MBAH SHOLEH DARAT
Ulama dari Semarang
KH Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani, terkenal dan akrab dengan nama KH Saleh Darat, adalah ulama terkemuka di peralihan abad 20 yang menjadi guru para ulama Jawa terkemuka generasi berikutnya. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai penulis prolifik kitab-kitab keagamaan beraksara Arab dalam Bahasa Jawa. Kiai Saleh Darat adalah putera Kiai Umar, yang seperti Kiai Maja, merupakan pejuang dan penasehat keagamaan Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa.
Beliau dilahirkan di kedung Jumbleng, Mayong, Jepara sekitar tahun 1820. Pelajaran agama pertama kali beliau peroleh dari ayah beliau sendiri, dilanjutkan berguru kepada beberapa ulama, antara lain: KH Muhammad Syahid (Kajen, Pati), KH Raden Muhammad Shalih bin Asnawi (Kudus), Kiai Ishak Damaran (Semarang), Kiai Abu Abdillah Muhammad al-Hadi bin Baquni (Semarang), Ahmad Bafaqih Ba’alawi (Semarang), dan Syekh Abdul Ghani Bima (Semarang).
Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap dan perlawanannya dihancurkan oleh Belanda, Kiai Umar beserta anak laki-laki beliau Saleh, melarikan diri ke Singapura dan kemudian ke Makkah. Selanjutnya di kota suci ini Saleh mempelajari Islam hingga bertahun-tahun. Teman seangkatan beliau adalah Syeikh Nawawi Banten dan Syaikhuna Cholil Bangkalan.
Dalam kitab Al-Mursyid al-Wajiz yang beliau tulis, beliau menyebutkan nama-nama guru beliau sewaktu belajar di Makkah antara lain: Syekh Muhammad al-Maqri al-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad al-Nahrawi al-Mishri al-makki, Sayid Muhammad Shalih az-Zawawi al-Makki, Syekh Zaid, Syekh Umar al-Syami, Syekh Yusuf as-Sanbalawi, dan Syekh Jamal.
Sekembali dari Makkah, Kiai Saleh diambil menantu oleh Kiai Murtadha, salah seorang kiai terkemuka zaman itu, dan kemudian membuka sebuah pesantren di Kampung Melayu Darat, Semarang. Dari sinilah adal mula nam ‘Darat’ yang disematkan kepada beliau. Santri-santri beliau berjumlah ratusan orang. Dari Semarang sendiri maupun daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya seperti; Kendal, Pekalongan, Demak, Rembang, Salatiga, Yogyakarta, Tremas dan lainnya. Beberapa santri beliau menjadi tokoh dan ulama terkemuka di paro  pertama abad 20 seperti; KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang, Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta, Pendiri Muhammadiyah), KH Mahfuzh (Tremas), KHR Dahlan (Tremas), Kiai Amir (Pekalongan), Kiai Idris (Surakarta), KH Abdul Hamid (Kendal), Kiai Khalil (Rembang), Kiai Penghulu Tafsir Anom (Kraton Surakarta). Tak berlebihan jika beliau disebut sebagai ‘guru ulama Jawa’.
Kitab-kitab yang ditulis oleh Kiai Saleh semuanya menggunakan Bahasa Jawa pesisiran atau istilah di dalam kitab-kitab beliau ditulis al-Lughah al-Jawiyyah al-Merikiyyah (Bahasa Jawa Setempat), dan sebagian besar merupakan karya saduran dan terjemahan atau khulashah (ringkasan) dari suatu kitab. Seperti ditulis di bagian akhir dalam salah satu kitab beliau “Majmu’ah asy-Syari’ah al-Kafiyatu lil ‘Awam”, “... kerono arah supoyo pahamo wong-wong amsal ingsun awam kang ora ngerti boso Arab muga-muga dadi manfaat bisa ngelakoni kabeh kang sinebut ing njero iki tarjamah ...,” kitab-kitab yang ditulis Kiai Saleh jelas ditujukan untuk kalangan yang tidak mengerti Bahasa Arab.
Kiai Saleh menerjemah, menyadur dan meringkas kitab-kitab besar seperti Ihya ‘Ulumuddin karya al-Ghazali atau Matan al-Hikam karya Ahmad bin ‘Athaillah al-Iskandari untuk disajikan ke pembelajar awam dan tidak mengerti bahasa Arab tersebut. Saduran dan ringkasan yang dibuat Kiai Saleh sangat padat, ringkas dan mengena. Tidak aneh kalau hingga sekarang pun sebagian dari kitab-kitab beliau masih dicetak oleh Karya Toha Putera, Semarang. Dan ini artinya masih terus dibaca dan dipelajari, terutama di daerah Jawa Tengah pesisiran.
Dalam kitab-kitab beliau, nam beliau ditulis secara resmi sebagai “Asy-Syaikh Haji Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani”. sebagai penghormatan, mendahului nama beliau juga dicantumkan sebutan “Asy-Syaikh al-‘Alim al-‘Allamah wal Bahrul Fahhamah (Sang Guru Besar yang Alim, Teramat Alim dan Memiliki Lautan Pengetahuan)”.
Di dalab kiab-kitab beliau, Kiai Saleh dengan terbuka dan kerendahan hati senantiasa menyebut bahwa beliau hanya menghimpun, meringkas dan menerjemah suatu kitab jika memang demikian adanya; “... metik saking Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali (diambil dari Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali),” demikian beliau tulis di sampul kitab Munjiyat.
Tercatat ada dua belas kitab yang dinisbatkan dengan nama Kiai Saleh, yaitu: Majmu’atusy Syari’at al-kafiyah li al-‘Awam (Himpunan hukum syari’at bagi orang awam), kitab Munjiyat (Kitab Ilmu Jiwa dipetik dari Ihya’ ‘Ulum ad-Din), Matan al-Hikam (Kitab Hikmah diambil dari karya Ahmad bin ‘Athaillah al-Iskandari). Kemudian Latha’ifuth Thaharah wa Asrar ash-Shalah (Rahasia dan hakikat salat dan puasa), keutamaan bulan Muharram termasuk ‘Asyura, keutamaan bulan Rajab dan keutamaan bulan Sya’ban; Manasik al-Hajji wa al-‘Umrah (Tata Cara Haji dan Umrah), Kitab Fasolatan (Kitab Tentang Sholat), Sabilul Abid ‘ala Jauharatit Tauhid (Kitab Tauhid [ketuhanan] yang merupakan terjemahan dari kitab tauhid karya Ibrahim al-Laqqani, Al-Mursyid al-Wajiz (Kitab tentang Al-Qur’an), Haditsul Mi’raj (kitab mengenai Isra’ Mi’raj), Kitab al-Mahabbah wa al-Mawaddag fi Tarjamah Qaul al-Burdah fi al-Mahabbah wa al-Madh ‘ala Asyyid al-Mursalin (Syarah atas kitab Maulid Burdah karya Muhammad bin Sa’id al-Bushiri [1212-1296 H.], Faidh ar-Rahman Fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan (Tafsir Qur’an0, dan Minhaj al-Atqiya’ fi Syarh Hidayat al-Adzkiya’ ila Thariq al-Auliya’ (Syarah atas kitab Hidayatul Adzkiya’ ila Thariq al-Auliya’ karya Zainuddin bin ‘Ali al-Malibari [872-928 H.]).
Tiga dari karya beliau yang diambil dari Imam Al-Ghazali, Syaikh Ibnu ‘Atha’illah dan Zainuddin al-Malibari, menunjukkan bahwa Kiai Saleh memiliki kecenderungan pada pengajaran tasawwuf, meski beliau juga menulis topik-topik yang lain. Kehidupan beliau yang sangat sederhana membuat beliau terkenal sebagai seorang sufi sejati. Tak aneh kalau di kalangan ulama Jawa yang lebih muda, Kiai Saleh dijuluki sebagai ‘Ghazali Kecil’ (al-Ghazali al-Shaghir).
Kiai Saleh Darat juga dianggap sebagai guru R.A. Kartini, pengobar perjuangan perempuan di Indonesia yang terus dikenang hingga kini. Dalam datu riwayat diceritakan bahwa seusai mengikuti pengajian tafsir al-Fatihah yang diberikan oleh Kiai Saleh Darat di Pendopo Agung Demak, R.A. Kartini secara halus meminta Kiai Saleh untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar Al-Qur’an lebih bisa dimengerti kalangan awam. Di antaranya, atas dasar permintaan R.A. Kartini itulah beliau Kiai Saleh menulis kitab Faidlur Rahman fi Tarjamah Tafsir kalam al-Malik al-Dayyan pada tahun 1312 H/1894 M, kitab yang berisi tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.
Ketika R.A. Kartini menikah, Kiai Saleh Darat menghadiahkan kepada beliau terjemahan Al-Qur’an juz pertama. Berkat terjemahan ini, R.A. Kartini yang sebelumnya memandang Al-Qur’an sebagai kitab yang hanya dimonopoli pengertiannya oleh para ulama saja, mengaku menjadi lebih memahami dan mencintai Al-Qur’an. Sayang, tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa ini hanya sempat ditulis hingga juz enam karena Kiai Saleh Darat wafat.
Kiai Saleh Darat dikenal memiliki sikap politik yang anti-Belanda yang tercermin dalam banyak karya beliau. Beliau mengajarkan murid-murid beliau untuk sebisa mungkin menghindari Belanda dan memperingatkan mereka agar tidak meniru-niru cara hidup Belanda. Dalam Kitab beliau, Majmu’at al-Shari’at al-Kafiyya li-l-‘Awam, beliau menyatakan haram hukumnya bagi umat Islam menggunakan pakaian Eropa seperti jas dan dasi. Jika pun tidak bisa dihindarkan lagi harus datang ke kantor pemerintahan, Kiai Saleh menyarankan agar bersangkutan masuk dengan kaki kiri terlebih dahulu sebagaimana memasuki toilet dan tempat-tempat sejenis lainnya. Karena itu, tidak aneh kalau sekali waktu Kiai Saleh pernah dicurigai memiliki hubungan dengan para aktivis politik. Pada tahun 1883, Konsul. Belanda di Jeddah melaporkan bahwa Kiai Saleh pernah meminta Sultan Turki Utsmani untuk menghancurkan dominasi Belanda di Jawa.
Kiai Saleh wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H, bertepatan dengan 18 Desember 1903, dalam usia 83 tahun. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Bergota, Semarang. Makam beliau kini menjadi sebjek ziarah keagamaan yang penting di Jawa. Pada tiap tanggal 5 Syawwal masyarakat menggelar haul untuk memperingati kewafatan ulama terkemuka ini. (Sumber: N.U online)

Selasa, 08 Juli 2014

قُرْأَنُنَا lagu tpq "Qur'anuna"

قُرْأَنُنَا مِنْ مُعْجِزَاتِ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدَ
2 أَجَلُهَا نَفْعًَا عَلَى أُمَّتِهِ مُسَرْمَدًا
طُوْبَى لِمَنْ يَحْفَظُهُ دُنْيَا وَ أُخْرَى أَبَدًا
وَ كَيْفَ لاَ إذًا يَمُوْتُ جِسْمُهُ لَنْ يَفْسُدًا 2
 يَا رَبِّ نَوِّرْ قَلْبَنَا بِنُورِ الْقُرْأَنِ انْجَلَى
وَ افْتَحْ لَنَا بِدَرْسٍ أَوْ قِرَاءَةٍ تُرَتََّلاً
يَا الله بِهَا يَا الله بِهَا
يَا الله بِحُسْنِ الْخَاتِمَة

Minggu, 04 Mei 2014

kaidah fiqhiyyah ke -10

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dengan adanya berbagai masalah fiqhiyyah kontemporer  yang kian marak merebak di kalangan komunitas santri maupun awam, serta dengan adanya tugas individu yang kami emban dari bapak dosen, hal ini menggerakkan sanubari dan kemampuan rasional kami untuk menyuguhkan sekelumit kaidah furu’iyyah yang kami cuplik dari berbagai literature yang membahas kaidah fiqh.
اعمال كلام اولى من اهماله, الفرض افضل من النفل
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa makna kaidah  اعمال كلام اولى من اهماله danالفرض افضل من النفل  ?
2.      Apa dasar kaidah fiqh اعمال الكلام اولى من اهماله  dan افضل من النفلالفرض?
3.      Bagaimana contoh kaidahاعمال الكلام اولى من اهماله  danالفرض افضل من النفل?
4.      Apa saja cabang dan pengecualian dari kaidahاعمال الكلام اولى من اهماله  dan الفرض افضل من النفل ?









BAB II
PEMBAHASAN
A.   
اعمال اكلام اولى من اهماله
“memberlakukan perkataan lebih utama daripada mengabaikannya”
·         Makna Kaedah
Tidak diperbolehkan mengabaikan perkataan dan membiarkannya tanpa makna, selama masih memungkinnya untuk  diarahkan kepada makna yang sebenarnya (makna hakiki) atau makna majazi. Karena, asal dalam perkataan adalah hakikatnya, maka selama tidk berhalangan untuk diarahkan kepada makna hakiki, ia tidak boleh diarahkan kepada makna majazi.[1]


I’malul kalam : menerapkan hukum ucapan sesuai tuntutan maknanya
Ihmalul kalam : mendisfungsikan ucapan tanpa makna sama sekali karena disebabkan beberapa faktor yang melatarbelakanginya.[2]

·         Contoh Kaedah:
1.      Seseorang memiliki dua bejana, yang satu untuk khamr dan lainnya adalah cuka, lalu ia mewasiatkan salah satu dari kedua bejana tersebut. Jika demikian, yang dilaksanakan adalah bejana cuka.[3]
2.      Seseorang berkata kepada istri dan himarnya: “salah satu dari kalian aku talak”, maka berarati istinya yang dicerai.[4]
3.      Seseorang mewasiatkan dua kendangnya, yang satu digunakan untuk hal-hal makshiyat dan yang satunya untuk hal-hal yang halal, maka yang dilaksanakan adalah kendang yang digunakan untuk hal-hal yang halal.[5]
4.      Seseorang bersumpah tidak akan memakan apapun dari kendil ini, maka termasuk di dalamnya segala apapun yang dimasak dengan menggunakan kendil tersebut.[6]
5.      Andaikata seseorang wakaf kepada anak-anaknya, padahal dia hanya mempunya cucu, maka wakaf itu harus diberikan kepada cucunya, karena cucu
6.       itu termasuk anak dalam arti majaz[7]

·         Cabang Kaedah:
الأصل في الكلام الحقيقة
“Ketentuan dasar sebuah ucapan adalah (diarahkan pada) makna hakikinya”
ü  Makna kaidah : penggunaan ucapan mutakallim –baik syari’, ‘aqid, halif  atau lainnya- itu jika lafadz ucapan tadi mengandung makna hakiki dan sunyi dari qorinah-qorinah yang lebih mengunggulkan makna majaz.
Contoh: jika seseorang mewakafkan kepada anak-anaknya, maka tercakup di dalamnya anak laki-laki dan perempuan. Karena hakikatnya kata anak (al walad) itu juga mecakup anak laki-laki dan perempuan.[8]
إذا تعذرت الحقيقة يصار الى المجاز
“jika dirasa sulit untuk mengarahkan ucapan pada makna hakikatnya, maka diarahkan pada makna konotsinya”
ü  Syarat pemalingan makna hakiki kepada makna majazi :
Lafadz yang digunakan untuk makna majazi disyaratkan adanya qorinah yang mencegah datangnya makna hakiki seperti mustahil dan sukarnya bermakna hakiki, Atau makna hakiki termahjur(terhalang) baik dari sudut pandang syara’ ataupun ‘urf
Contoh: seseorang berwakaf kepada anaknya – padahal ia hanya mempunyai cucu- , maka wakaf diberikan kepada cucunya tersebut. Cucu adalah makna majaz dari anak.[9]
إذا تعذر إعمال الكلام يهمل 
“jika sulit memberlakukan suatu ucapan, maka ucapan tersebut tidak dapat diberlakukan”
Contoh: seseorang menuduh orang lain memotong tangannya, padahal tangannya masih utuh[10]
ذكر بعض ما لايتجزأ كذرك كله
“Manyebutkan sebagian sesuatu yang tidak bisa diperinci itu seperti menyebutkan keseluruhannya”
Contoh: seseorang mencerai setengah atau seperempat (badan pen.) istrinya, maka berarti ia mencerai seluruh(badan pen.) istrinya[11]
المطلق يجرى على إطلاقه مالم يقم دليل التقييد نصا أو دلالة
“sesuatu yang mutlak berlaku sejalan dengan kemutlakannya selama tidak ada dalil yang membatasinya baik nash maupun dalalah”
Contoh: seseorang  mewakilkkan kepada orang lain untuk membeli kuda atau mobil, lalu orang tersebut membelikannya warna merah atau putih. Kemudian orang yang mewkilkan tersebut berkata kepadanya bahwa ia meu yang berwarna hitam, maka sudah lazim apa yang dibeli oleh wakil tersebut, karena kalam yang mutlak berlaku sesuai  dengan kemutlakannya.[12]
الوصف فى الحاضر لغو وفي الغائب معتبر
“menshifati  yang hadir (ada di tempat) itu sia-sia, dan mensifati  sesuatu yang gho’ib(tidak ada di tempat) itu dianggap perkiraan”
ü  Ruang lingkup kaidah: kaidah ini berlaku pada sebagian akad mubadalah seperti bai’, ijaroh, dan nikah, yang man syarat shahnya adalah ma’rifatu  albadalain,dan intifaa’u al juhaalah
Contoh: seseorang berkata : aku menjual kuda putih ini kepadamu-sambil menunjuknya-padahal berwarna  hitam-mak jual tesebut menjadi sah jika pembeli menerimanya, dan sia-sialah penyifatan terebut. Sedangkan jika kuda tersebut tak ada (di tempat akad) dan si penjual berkata bahwa ia menjual kuda putihnya , kemudian tampak jelas bahwa kudanya berwarna hitam, maka pembeli boleh khiyar[13]
السؤال معاد في الجواب
“pertanyaan itu (diulang) dalam jawaban”
Contoh: seseorang berkata pada orang lain: aku menjual rumahku atau tokoku. Lalu orang tersebut menjawab: ya, tau aku terima, maka berarti ia ridlo dengan jualbeli  tersebut[14]
التأسيس اولى من التأكيد [15]
“ta’sis lebih diprioritaskan daripada ta’kid”
Contoh: seorang suami berkata pada isterinya  kamu aku thalak kamu aku thalak tanpa ada niatan apapun, maka  menurut qaul yang shohih adalah jatuhnya thalak[16]
·        Disfungsi Ucapan(Ihmal)
Mendis-fungsikan kalam, baik secara konotatif maupun denotatif  dapat terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya seperti yang tersebut di bawah ini:
1.      Sulitnya mendefinisikan makna yang dimaksud.
2.      Lafadz yang diucapkan bermakna ganda (musytarak), sementara  tak ada peluang  untuk mengarahkan pada salah satu makna yang dikandung.
3.      Lafadz yang diucapkan tidak mendapat legimitasi syara’.
4.      Kata-kata yang diungkapkan bertentangan dengan relitas di lapangan praksis (zhahir).
5.      Kata-kata yang dilontarkan tidak sesuai (kontradiktif) dengan ketentuan syari’at.[17]



B.      
الفرض اولى من النفل
“Ibadah fardlu lebih utama daripada ibadah sunnah”
·         Makna Kaidah
Ibadah fardlu adalah lebih banyak keutamaannya daripada ibadah sunnah. Para ulama’ mengatakan bahwa pahala fardlu adalah melebihi pahala ibadah sunnah, dengan selisih 70 pahala. Adapun ibadah fardlu di sini meliputi  fardluiltizam, seperti puasa  nadlzar atau ibadah  fardlu ‘ain, seerti shalat 5 waktu atau fardlu   kifayah, seperti shalat jenazah.[18]
Sementara al-Zarkasyi dalam al-Mantsur fi al-Qawa’id mengemukakan, ketinggian derajat  fardlu tidak hanya sebanding dengan 70 kali ibadah sunnah, akan tetapi bisa lebih dari itu. Bahkan menurutnya, bisa mencapai derajat yang hanya Allah swt.saja yang tahu ketinggian kadarnya.[19]
·         Dasar Kaidah
قال صلى الله عليه وسلم فيما يحكيه عن ربه وما تقرب الى المتقربون بمثل اداء ما افترضت عليهم رواه البخاري
Nabi bersabda: “Tidak ada amalan orang-orang yang bertaqarrub keada-Ku yang lebih Aku cintai yang menyamai pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan.”(HR. Bukhari)
ان رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال في شهر رمضان من تقرب فيه بخصلة من خصال الخير كان كمن ادى فريضة فيما سواه ومن ادى فريضة فيه كان كمن ادى سبعين فريضة فيما سواه
Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan bulan Ramadlan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya: “Barangsiapa melakukan taqarrub (ibadah sunnah) kepada Allah swt di bulan Ramadlan, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana ia melakukan satu ibadah fardlu di bulan Ramadlan, maka seperti halnya ia mengerjakan 70 kali ibadah fardlu ada selain ibadah itu.”[20]



·         Pengecualian Kaidah
1.      Membebaskan beban hutang pada orang yang kesulitan membayar. Pembebasan hutang ini, dinilai lebih utama dari pada menunggu sampai ia mampu melunasi. Hukum membebaskan adalah sunah, sedangkan menanti hingga terjadi pelunasan adalah wajib,[21] seperti ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 280;[22]
وان تصدقوا خير لكم
“……. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, …………”
2.      Mengawali salam lebih utama daripada menjawabnya. Adapun memulai salam itu lebih utama, berdasarkan hadits nabi saw:
وخيرهما الذي يبدا بالسلام
“Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam”[23]
3.      mengumandangkan adzan adalah berhukum sunnah, menurut pendapat yang lebih shohih mengumandangkan adzan itu lebih utama daripada menjadi imam yang berhukum fardlu kifayah atau fardlu ‘ain.
4.      Berwudlu sebelum masuk waktu shalat itu lebih utama daripada berwudlu setelah masuk waktu shalat.[24]








BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Disamping kaidah kulliyyah ruang lingkup pembahasan kaidah fiqh juga ada yang namanya kaidah furuu’iyyah yang jumlahnya sangat banyak sekali. Di antaranya adalah 2 kaidah berikut ini yakni:
اعمال اكلام اولى من اهماله
“memberlakukan perkataan lebih utama daripada mengabaikannya”
الفرض اولى من النفل
“Ibadah fardlu lebih utama daripada ibadah sunnah”



B.     SARAN DAN KRITIK
Mengingat perkembangan zaman yang seolah mengejar kita di tengah-tengah bingkai syari’at Islam, selambat apapun modernisasi akan mengenai kita dan samai saatnya kita akan bertanya tentang hukum menurut pandangan Islam. Maka, tidaklah selayaknya bagi kita untuk diam dan acuh, padahal banyak pertanyaan yang menanti usaha kita  untuk terus mengkaji fiqh kontemporer yang dapat kita kaitkan dengan nalar kaidah fiqh untuk menemukan jawaban dari berbagai masalah kekinian. Maka marilah berfikir dan bertindak!.
Atas pemaparan kami di atas yang kami cuplik dari berbagai referensi yang kami miliki, maka sangatlah mungkin akan terbukanya peluang kekurangan dan kesalahan yang berserakan di sana-sini, dari sini kami sangat mengharap saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak teutama dari dosen pengamu demi perbaikan makalah ini selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA


Achmad, asy Syaikh Moch. Djamaluddin, al ‘Iinaayah Syarh al Faroo’id al Bahiyyah fii Nadzmi  al Qawaa’id al Fiqhiyyah, Jombang: Pustaka Muhibbin, 2010, cet:1
Al Burnu, Muhammad Shidqi bin Achmad, al Wajiiz fii Iidloohi Qawaa’id al Fiqh al kulliyyah, Riyadl: at Taubah, 1415 h
Al Hasyimiy, Muhammad Ma’shum Zainiy, Sistematika Teori Hukum Islam, Jombang: Darul Hikmah, 2008
As Suyuthi, al Imam Jalaaluddin ‘Abdurrohman bin Abi Bakar, al Asybaah wan Nadhoo’ir fii al Furuu’,tt
Asy Syahaariy, asy Syaikh ‘Abdulloh bin sa’iid Muhammad ‘Ubbaadiy al Lahjiy al Hadlromiy, Iidloohu al Qawaa’id al Fiqhiyyah li thullaabi al Madrasah ash Shoultiyyah, Surabaya: al Hidaayah,1410 h, cet:3
Haq, Abdul, Ahmad Mubarok, Agus Ro’uf, Formulasi Nalar Fiqh Telaah Kaidah Fiqh Konseptual Buku Dua,Surabaya: Khalista, 2009, cet: 5
Manshur, M. Yahya Chusnan, ats Tsamarot al Mardliyyah Ulasan Nadhom Qowaid Fiqhiyyah al-Faroid al-Bahiyyah, Jombang: Pustaka al-Muhibbin, 2011, cet:2
Zaidan, Abdul Karim, al-Wajiz 100 Kaidah Fikih Dalam Kehidupan Sehari-hari, Jakarta Timur: Pustaka al Kautsar, 2008, cet: 2





[1] Dr. Abdul Karim Zaidan, h.19-20.
[2]Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad Al-Burnu,al- Wajiiz fii Iidlohi qowaa’id al fiqhi al –kulliyyah, hal: 260
[3]Sistematika Teori Hukum Islam, h.113
[4]Al’inaayah,h.122
[5]Al Imam jalaluddin as suyuti,al-asybah wan nadzoir,h.87
[6]Dr.M.Shidqi bin Ahmad al-Burnu,al-Wajiz,h.260
[7]ats tsamarot al Mardliyyah,h.146
[8]Al wajiz,h.262-263
[9]Ibid,h:265-266
[10]Ibid,h:267-268
[11]Ibid,h:269
[12]Ibid,h.271-272
[13]Ibid,h:273-274
[14]Ibid,h:275
[15]Ibid,h:276
[16]Al Asybah wan nadza’ir, h:93
[17]Fomulasi Nalar Fiqh,h.118-120
[18]Ats Tsamarot al Mardliyyah, hal: 180
[19]Formulasi nalar fiqh, hal: 208,209
[20]Al Asybah wan Nadhaa’ir, hal:99, ats Tsamarot Al Mardliyyah, hal: 180, 181
[21]Asy Syaikh ‘Abdulloh bin Sa’id Muhammad ‘ubbadiy al Lahjiy, iidlohul Qawa’iid al Fiqhiyyah, hal:78
[22]Al Asybah wan Nadhaa’ir, hal: 99
[23]Iidlohul Qawaa’id al Fiqhiyyah, hal: 78
[24]Ibid