Kamis, 23 Mei 2013

Teknik-Teknik Pengajaran Bahasa 'Arab



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara umum masalah utama yang muncul ketika hendak mempelajari dan menela’ah Al-Qur’an adalah bahasa. Di satu sisi, Al-Qur’an berbahasa arab, di sisi lain , para user dan pembelajar bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Ini menyebabkan komunikasi dialogis pun tidak terjadi. Inilah yang menjadi salah satu penyebab abainya umat Islam terhadap agamanya sendiri. Oleh karenanya sebagai mahasiswa jurusan PBA hendaknya mengerti dan memahami hal-hal yang berhubungan denga pembelajaran bahasa arab secara sistimatis. Dikarenakan kami sebagai kelompok kedua dalam mata kuliah STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB maka kami membahas tentang teknik- teknik dalam pembelajaran bahasa arab beserta contoh-contohnya.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Dari Teknik Pengajaran?
2.      Bagaimana Sistem Pengajaran Bahasa?
3.      Apa Saja Teknik Pengajaran Unsur Bahasa?
4.      Apa Saja Teknik Pengajaran Kemahiran Bahasa?


  1. Tujuan Masalah
1.      Untuk Mengetahui Pengertian Teknik Pengaajaran
2.      Untuk Mengetahui Sistem Bahasa
3.      Untuk Mengetahui Teknik Pengajaran Unsur Bahasa
4.      Untuk Mengetahui Teknik Pengajaran Kemahiran Bahasa






BAB II
PEMBAHASAN
A.     PENGERTIAN TEKNIK PENGAJARAN
Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (2005: 1158) teknik adalah metode atau sistem mengerjakan sesuatu, cara membuat atau seni melakukan sesuatu. Gerlach dan Ely (Hamzah B Uno, 2009: 2) mengartikan teknik sebagai jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik kearah tujuan yang ingin dicapai. Teknik secara harfiah juga diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengaplikasikan dan mempraktikkan suatu metode.
Wikipedia mendefinisikan pembelajaran sebagai setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Khusus untuk pengertian teknik pembelajaran, Sudrajat (2008:1) menjelaskan teknik pembelajaran sebagai cara yang dilakukan pengajar dalam menerapkan metode pembelajaran tertentu. .[1]
B.     SISTEM PENGAJARAN BAHASA
       Ada beberapa system dalam mengajarkan unsure-unsur  bahasa dan keterampilan-keterampilan berbahasa tersebut, yaitu system terpisah-terpisah, sitem terpadu, dan system gabungan.
1.      System Terpisah-terpisah
System ini di dalam bahasa Inggris disebut Separated Sistem atau Nizhamul Furu’ dalam bahasa ‘Arab. Dalam sistem ini pelajaran bahasa dibagi menjadi beberapa mata pelajaran, misalnya mata pelajaran nahwu, shorof, muthola’ah, insya’, muhadatsah, istima’, khot, imla’.
Kelebihan system ini ialah bahwa guru dan perancang kurikulum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk memberikan perhatian khusus kepada bidang kajian atau mata pelajaran tertentu yang menurut pandangannya sangat penting.
Adapun kelemahannya, system ini mencabik-cabik keutuhan bahasa dan menghilangkan esensi dan watak alamiahnya. Hal ini menjadi pengetahuan dan pengalaman kebahasaan pelajar juga terpotong-potong, sehingga tidak mapu menggunakannya secara baik dan benar dalam kehidupan nyata.
2.      System Terpadu
Sistem ini dalam bahasa Inggris disebut Intregated Sistem / All in One Sistem atau Nizhamul Wahdah dalam bahasa ‘Arab. Dalam sistem ini bahasa dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, saling berhubungan dan berkaitan; bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, hanya ada satu mata pelajaran, satu jam pertemuan, satu buku, satu evaluasi, dan satu nilai hasil belajar.
Kelebihan sistem terpadu ini adalah landasan teoritisnya yang kuat, baik teori psikologis, teori kebahasaan, maupun teori kependidikan. Dipandang dari sudut psikologi, sistem terpadu ini sesuai dengan tabiat atau cara kerja otak dalam memandang sesuatu, yaitu dari global ke bagian-bagian. Dipandang dari sudut teori kebahasaan, sistem terpadu ini sejalan dengan tabiat bahasa sebagai sebuah sistem, dan sesuai dengan realitas penggunaan bahasa yang memadukan berbagai unsure dan keterampilan berbahasa secara utuh. Dari segi kependidikan (didaktik), sistem terpadu menjamin terwujutnya pertumbuhan kemampuan bebahasa secara seimbang karena semuanya ditangani dalam situasi dan kondisi yang sama, tidak dipengaruhi oleh keberagaman semangat dan kemampuan pegajar.
Adapun kelemahannya, jika diterapkan pada tingkat lanjut kurang dapat memenuhi keperluan pendalaman unsure bahasa atau keterampilan bahasa tertentu yang memang menjadi kebutuhan nyata dari para pembelajar.
3.      System Gabungan
Lembaga pendidikan yang menggabungkan kdua sistem dalampola pengajaran bahasa Arabnya. Sebagai contoh, KMI Gontor meneapkan sistem terpadu dalam pengajaran bahasa Arab sealam satu tahun. Di kelas satu KMI itu hanya ada mata pelajaran bahasa Arab yang ditangani oleh seorang guru dengan jumlah jam lebih dari 10 jam perminggu.kemudian padakelas dua dan seterusnya, diterapkan sistem terpisah-pisahdengan memecah-mecah pelajaran bahasa Arab dalam beberapa mata pelajaran.[2]
C.    TEKNIK PENGAJARAN UNSUR BAHASA
I.                   Teknik Pengajaran Unsur Bahasa
A.    Teknik Pengajaran baca-tulis ( mengenal bunyi dan ortografi) bahasa.arab.
1.      Metode Alpabetik (الأبجدية)
v  Dimulai dengan mengenalkan nama-nama huruf dan ortografi (bentuk tulisannya)
v  Mengenalkan bunyi huruf konsonan setelah digabungkan dengan huruf vocal sehingga membentuk sebuah fonem
v  Latihan-latihan intensif dan berulang-ulang gabungan-gabungan huruf yang membentuk kata sampai dengan kalimat
Misal :   اَ اِ اُ – بَ بِ بُ –  تَ تِ تُ -  ثَ ثِ ثُ – جَ جِ جُ
2.      Metode Bunyi (الصوتية)
a.       Metode Sintesis (التركيبية)
Metode ini dimulai dengan mengenalkan bunyi huruf-huruf. Kemudian dirangkai menjadi kata-kata. Contoh :
نَ-بَ-تَ             نَ بَ تَ               نَبَتَ
b.      Metode Analisis( التحليلية)
Metode ini dimulai dengan kata. Kemudian dikupas menjadi bunyi huruf-huruf. Atau dimulai dengan kalimat, kemudian dikupas menjadi kata-kata, dan dikupas lagi menjadi huruf-huruf. Contoh :
قَلَمٌ                     - قَ لَ مٌ              قَ-لَ-مٌ
Metode analisis ini biasanya dimulai dengan penyajian kata yang telah dikenal oleh siswa, atau untuk bahasa asing dengan bantuan  gambar.
c.       Metode Analisis-Sintesis (   التحليلية التركيبية)
Metode ini merupakan penggabungan kedua metode, misalnya dalam bentuk berikut:       
 سَلِمَ
سَ لِ مَ   
سَ-لِ-مَ              
سَ لِ مَ
سَلِمَ
Atau sebaliknya:

سَ-لِ-مَ              
سَ لِ مَ
سَلِمَ
سَ لِ مَ
سَ-لِ-مَ
B.     Teknik Pengajaran Tata Bahasa atau Struktur
1.      Pengenalan Kaidah
a.       Cara Deduktif
Dimulai dengan pemberian kaidah yang harus difahami dan dihafalkan kemudian diberi contoh-contoh. Setelah itu siswa diberi kesempatan untuk melakukan latihan-latihan guna untuk menerapkan kaidah atau rumus yang telah diberikan.
Cara ini mungkin lebih disenangi oleh sebagian pembelajar bahasa yang telah dewasa, karena dalam waktu singkat mereka telah dapat mengetahui kaidah-kaidah bahasa, dan dengan daya nalarnya mereka dapat mengaplikasikan kaidah-kaidah itu ketika di perlukan
Kelemahannya pembelajar cenderung hanya menghafalkan kaidah dan kurang terlibat dalam prosees pemahamannya. Akibatnya pembelajar kurang mampu menerapkan kaidah dalam praktek berbahasa yang sesungguhnya.
b.      Cara Induktif
Dilaksanakan dengan cara: pertama-tama guru menyajikan contoh-contoh (al-Amtsilah). Setelah mempelajari contoh-contoh yang diberikan, dengan bimbingan guru siswa diajarkan unntuk menarik kesimpulan sendiri tentang kaidah-kaidah bahasa berdasarkan contoh-contoh tersebut.
Dengan cara ini, siswa secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, yakni dalam menyimpulkan kaidah-kaidah. Karena penyimpulan ini dilakukan setelah siswa mendapat latihan yang cukup, maka pengetauan tentang kaidah itu benar-benar berfungsi sebagai penunjang ketarampilan berbahasa.
Kelemahannya, banyaknya waktu yang diperlukan untuk memperkenalkan kaidah-kaidah baru, sehingga pelajar bahasa yang telah dewasa biasanya kurang sabar.
Suatu hal yang harus dihindari dalam pengenalan kaidah, baik dengan cara deduktif maupun induktif, ialah kecenderungan berlama-lama dalam membahas kaidah-kaidah tanpa sempat melakukan latihan berbahasa itu sendiri. Sehingga kegiatan di dalam  kelas lebih menyerupai kegiatan analisis bahasa dari pada kegiatan berbahasa. Akibatnya pengetahuan tentang kaidah-kaidah itu hanya tinggal sebagai pengetahuan.
2.      Latihan (Dril)
Ada tiga jenis latihan yang masing-masing bisa berdiri sendiri atau bisa merupakan satu urutan yang merupakan kesatuan, yakni:
a)      Latihan mekanis
b)      Latihan bermakna
c)      Latihan komunikatif
Dengan urutan ini tidak berarti bahwa jenis latihan pertama harus diberikan dalam kurun waktu tertentu baru kemudian boleh dilanjutkan dengan jenis latihan kedua dan selanjutnya. Ketiga jenis latian itu, bisa saja diberikan secara berurutan dalam satu jam pelajaran.
Penerapan ketiga jenis latihan ini adalah merupakan implementasi dari metode eklektik, yaitu gabunga antara metode Audio-lingual dan metode Komunikatif. Seperti diketahui, metode Audio-lingual menekankan pada latihan mekanis. Sedangkan metode Komunikatif menekankan pada latihan komunikatif. Untuk menggabungkan keduanya dijembatani dengan latihan bermakna atau semi-komunikatif.
a)      Latihan Mekanis
Pada dasarnya latihan bertujuan menanamkan kebiasaan dengan memberikan stimulus untuk mendapatkan respon yang benar. Latihan-latihan ini dapat diberikan secara lisan atau tertulis, dan diintregasikan dengan latihan keterampilan berbicara dan menulis.
Ada bermacam-macam latihan mekanis, antara lain:
a.       Pengulangan sederhana, misalnya :
Stimulus : فتحَ المدرسُ كتابًا
Respon     :   فتح المدرسُ كتابا
b.      Penggantian sederhana, misalnya :
Stimulus : حامد يحب قميصا أبيض
Respon   : حامد يحب قميصا أبيض
Stimulus : سروال
Respon   : حامد يحب سروالا أبيض
Stimulus : حذاء
Respon   : حامد  يحب حذاء  أبيض
Dalam contoh diatas yang dilatihkan substitusinya adalah kata benda yang menjadi objek (maf’ul bih). Dalam contoh dibawah ini, yang diganti adalah kata sifatnya:
Stimulus : حامد يحب قميصا أبيض
Respon   : حامد يحب قميصا أبيض
Stimulus : أسود
Respon   : حامد يحب سروالا أسود
Stimulus : أزرق
Respon   : حامد يحب إزارا أزرق
Jenis ketiga adalah penggantian dari satu item, seperti dalam contoh berikut, dimana fa’il dan maf’ul kedua-duanya diganti.
c.   Penggantian berganda, misalnya :
Stimulus :  ركب أحمد دراجة
Respon   :  ركب أحمد دراجة
Stimulus :  محمد - سيارة
Respon   : ركب محمد سيارة 
Stimulus : فهمي - قطار
Respon   : ركب فهمي قطارا

Latihan-latihan pengulangan dan penggantian tersebut di atas adalah untuk memantapkan pola kalimat (Anmath al-Jumal) yang variasinya sangat banyak, tetapi di dalam bahasa Arab pada dasarnya hanya ada dua macam kalimat, yakni : jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah fi’liyah (kalimat verbal).
Dalam latihan-latihan terdahulu belum ada erubahan bentuk kata atau kalimat sebagai akibat dari penggantian kata tertentu. Latihan semacam ini sudah agak sulit, dan masuk dalam jenis latihan berikut :
d.      Transformasi, misalnya :
Stimulus :  سافر خالد إلى العاصمة
Respon   :  سافر خالد إلى العاصمة
Stimulus :  فاطمة
Respon   : سافرت فاطمة إلى العاصمة
Stimulus : حسني
Respon   : سافر حسني إلى العاصمة
Stimulus : سوزن
Respon   :سافرت سوزن إلى العاصمة 

Contoh lain, perubahan bentuk kata kerja seperti contoh di muka dan sekaligus perubahan dlamir (kata ganti)nya.
Stimulus :  عاد فريد إلى بيته
Respon   : عاد فريد إلى بيته 
Stimulus :  فريدة
Respon   : عادت فريدة إلى بيتها
Stimulus : نبيلة
Respon   : عادت نبيلة إلى بيتها
Stimulus : نبيل
      Respon   :       عاد نبيل إلى بيته 
 
Latihan perubahan bentuk tunggal menjadi jama’ :
Stimulus : الطلاب ذاهبون إلى الجامعة 
Respon   : الطلاب ذاهبون إلى الجامعة 
Stimulus :  الموظف
Respon   : الموطفون ذاهبون إلى الجامعة
Stimulus : المدرس
Respon   : المدرسون ذاهبون إلى الجامعة
Stimulus : الأستاذ
      Respon   :   الأساتيذ ذاهبون إلى الجامعة

Latihan-latihan berikut ini adalah transformasi satu bentuk kalimat kepada bentuk kalimat yang lain misalnya dari jumlah ismiyah menjadi jumlah fi’liyah :
Stimulus : أنيسة ذاهبة إلى مكتب البريد 
Respon   : تذهب أنيسة إلى مكتب البريد 
Stimulus :   فاروق راجع من المدرسة
Respon   :   رجع فاروق من المدرسة  
Stimulus : الموظفون يعملون في الديوان
Respon   :   يعمل الموظفون في اليوان

Perubahan bentuk pernyataan menjadi bentuk pertanyaan :
Stimulus :عميد الكلية مشغول 
Respon   : هل عميد الكلية مشغول ؟  
Stimulus :  يسافر الرئيس إلى القاهرة
Respon   : إلى أين يسافر الرئيس ؟
Stimulus : الوزير يلقي كلمة ترحيبية
Respon   : من يلقي كلمة ترحيبية ؟
Stimulus : تسلمت رسالتك في الأسبوع الماضي
      Respon   :   متى تسلمت رسالتي ؟

Perubahan bentuk kalimat aktif menjadi pasif :
Stimulus : يشرح المدرس الدرس 
Respon   : يشرح الدرس  
Stimulus : يأكل الصبي الموز  
Respon   : يؤكل الموز 
Stimulus : تقرأ الأم الرآن 
Respon   : يقرأ القرآن 

e.       Penggabunagan kalimat dengan penambahan ism  al-maushul :
Stimulus : قرأت كتابا – اشتريت كتابا بالأمس
Respon   :قرأت الكتاب الذي اشتريته بالأمس 
Stimulus : جاءني صديق – صديقي يرجع من الخارج 
Respon   : جاءني صديقي الذي يرجع من الخارج 
Stimulus : أركب الدراجة – أستعير الدراجة من صديقي 
Respon   :  أركب الدراجة التي أستعيرها من صديقي 
 
Penggabungan yang menunjukkan hubungan sebab akibat :
Stimulus : ما صليت الجمعة بالأمس – أنا مريض
Respon   : ما صليت الجمعة بالأمس لأني مريض 
Stimulus :رجعت المعلمة إلى البيت – بنتها مريضة  
Respon   : رجعت المعلمة إلى البيت لأن بنتها مريضة 
Stimulus : ذهبت إلى الجامعة بالدراجة – أنا متعجل 
Respon   : ذهبت إلى الجامعة بالدراجة لأني متعجل 

Penggabungan yang mnunjukkan hubungan kontradiktif :
Stimulus : ذهب فريد إلى السينما – هو مفلس
Respon   : ذهب فريد إلى السينما مع أنه هو مفلس 
Stimulus :حضرت أمينة الاجتماع – المطر غزير جدّا 
Respon   : حضرت أمينة الاجتماع رغم أن المطر غزير جدّا
Stimulus :  اسم تلميذ ذكي – حاسم كسلان 
Respon   : اسم تلميذ ذكي بيد أنه كسلان 

Untuk melaksanakan latihan-latihan mekanis ini, sebaiknya guru memulai dengan memberikan contoh-contoh dan menunjukkan bagian mana yang harus diubah. Setelah jelas, guru tinggal memberikan aba-aba untuk melanjutkan substitusi atau transformasi dan seterusnya.
Untuk variasi, pelaksanaan dril di dalam kelas dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
Ø  Guru sendiri yang membacakan atau memberikan stimulus dan murid diminta merespon.
Ø  Guru memutarkan tape-recorder dan menunjuk siswa untuk merespon satu-persatu.
Ø  Guru meminta seorang siswa untuk mempersiapkan dan memimpin satu dril tentang pokok  bahasan tertentu.
Ø  Guru meminta para siswa melakukan dril secara berpasangan, seorang membacakan stimulus dan yang lain merespon, kemudian bertukar peran.
Cara-cara ini akan menghidupkan suasana kelas dan memberikan kesempatan kepada setiapsiswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan latihan.
b)      Latihan bermakna
1)      Alat Peraga : baik berupa benda-benda alamiah maupun gambar-gambar, yang dipakai untuk memberikan makna pada kalimat-kalimat yang dilatihkan. Misalnya: guru menampilkan satu model seperti ini:
أنت تتناول الفطور فى الساعة ااسادسة
Selanjutnya guru menunjuk  kepada setiapfigur dalam gambar dan siswa diminta merespon dengan mengucapkan kalimat dengan mengindahkan perubahan bntuk kata kerja sesuai dengan jenis kata ganti (dlamir) yang ditunjuk oleh guru.[3]
Atau contoh berikut yang  kami (penyusun) ambil dari kitab بين يديك  العربية [4]